Away from Insanity

…life is hard, even for the sane ones…

Marriage: with or without Love? August 10, 2008

Filed under: Trying to be Wise — widyacancan @ 8:31 am
Tags:

Siang ini, aku menghadiri pernikahan salah satu teman baikku, Anisa Retno Febriyanti. Tadinya aku sempat kaget waktu nerima undangan pernikahannya… seneng sih, karena ada satu lagi temanku yang bakal berbahagia. Tapi di lain pihak, aku agak merasa ” OMG, lagi2 aku ketinggalan kereta”. Gimana enggak, dalam tahun ini aja ada banyak teman yang pernah satu sekolah atau satu angkatan di kampus denganku yang udah menikah (belum lagi tahun-tahun sebelumnya). Sekedar menyebut saja nih… temen2 SMU yang dulu kebetulan duduknya sempat sering deket aku pas kelas 3: Nuke, Anita& Fika.. udah nikah tahun kemaren, temen2 yang lain juga banyak. Temen2ku waktu S1 bahkan bisa dibilang hampir semua yang perempuan& banyak yang laki-laki udah menikah. Bahkan termasuk sahabat seperjuanganku, Ratih a.k.a Cupee yang nikah bulan Mei kemarin… hikkss (anyway, I’m happy for you gurl ;-p)

Kembali ke diriku sendiri.. umurku udah 25 tahun, temen2 seumuranku rata2 udah pada nikah. Emang tidak terlalu aneh kalau masalah yang sering merongrong aku belakangan ini adalah soal jodoh. Kalau aku banding2kan dengan kasus serupa yang banyak dialami perempuan2 lain.. rata2 mereka dipusingkan oleh ‘high expectancy’ dari orang tua dan keluarganya terkait jodoh yang harus dia dapatkan.

That sucks…

Karena buat aku kasusnya bertolak belakang! Aku malah dipusingkan oleh ‘konflik tiada ujung’ antara aku& keluargaku di mana mereka hampir semuanya mengharapkan supaya aku menurunkan standar kriteria buat calon jodohku. Bahkan aku juga ‘disuapi’ dengan dogma bahwa cinta itu tidak perlu untuk langgengnya sebuah pernikahan. Mungkin kalau dilihat dari sisi pengalaman hidup orang2 tua zaman dulu, hal ini bisa jadi ada benarnya. Apalagi keluargaku yang notabene orang Minang asli, yang secara adat terbiasa dengan proses perjodohan klasik… cukup dengan lamaran dan kesepakatan dari kedua keluarga tanpa proses pacaran layaknya orang muda zaman sekarang. Nyatanya nenek, maktuo dan ibuku semuanya bisa dibilang pernikahannya langgeng (walaupun nenekku dimadu).

Apakah hubungannya antara perjodohan klasik, kriteria yang jangan tinggi2 amat dan nggak perlu pake cinta segala?? Hubungannya begini… kalau kriteria yang kamu tentukan buat calon jodohmu terlalu tinggi (paling enggak dari sudut pandang orang yang hendak menjodohkan), apalagi kalau kamu menetapkan kriteria kalau kamu harus cinta dulu baru mau menikah… akan sangat merepotkan bagi para ‘mak comblang’ yang musti lebih banyak mencari kandidat calon suami karena bakal banyak yang kena reject. Ibaratnya para mak comblang itu bagian HRD dari perusahaan. Makin tinggi kriteria yang ditetapkan perusahaan, makin banyak kandidat yang harus discreening, dites, diwawancara, trus dipilah2, sampai dapat calon yang benar2 terbaik.

Kalau dilihat dari sini, sepertinya proses perjodohan klasik bakal konyol sekali untuk diterapkan pada orang macam aku. Sebetulnya menurutku kriteria yang aku inginkan nggak segitunya bgt sih, aku juga nggak berharap dapat yang sempurna amat (okay… I know I’m not that perfect either). Lagian apa berlebihan kalau aku nggak mau punya suami kalau kayak Mr. Potato (saingannya Chitato) ??

Lagipula kalau soal cinta… begini2 aku juga punya idealisme. Menurutku cinta itu justru bahan dasar yang wajib ada kalau kamu mau membangun sebuah keluarga yang bahagia. Coba bayangkan begini… seandainya kamu menikah tanpa cinta. Semua yang kamu jalankan hanya karena kewajiban. Seorang suami wajib membiayai istrinya, istri wajib melayani suaminya.. bahkan soal anak pun bisa jadi hanya masalah kewajiban. Sebagai pasangan suami-istri kamu wajib punya anak (untuk meneruskan garis keturunan), menyekolahkan anakmu dan memberi makan supaya dia tumbuh. Tapi di luar itu, apakah anakmu benar2 buah hati untukmu?

Bisa iya, bisa juga tidak.

Advertisements
 

Am I stressed? August 9, 2008

Filed under: Annoying Thoughts — widyacancan @ 5:58 pm
Tags:

Apakah aku lg stress belakangan ini??

jawabannya adalah.. ya

sebetulnya mungkin sepanjang hidupku aku sering bgt ngalamin stress.

Entah hidupku yang emang agak sedikit nggak beres (kalo dilihat dari sudut pandang tertentu), atau emang akunya yang punya bawaan jadi orang stressed.. tak tau lah..

Just for your information, di dalam blog ini mungkin aku kadang bakalan nyampah.. demi menjernihkan pikiranku yang seringkali ruwet gak karuan.

Tapi ada kalanya pikiranku gak ruwet, jadi ya tulisanku kadang2 isinya gak kacau2 amat..hehe.. (Hopefully )

 

Unforgettable Moments at Junior High School

Filed under: Memories — widyacancan @ 5:21 pm
Tags:

Seandainya ada yang nanya, kapan masa yang paling menyenangkan buat aku sepanjang hidupku… mungkin salah satu kandidat kuat buat predikat tersebut adalah masa SMP. Tahun 1994 sampai 1997 mungkin bisa dibilang ‘the golden age’ buat aku. Bukan berarti di masa2 sebelum dan sesudah itu aku nggak pernah happy, cuman kayaknya zaman SMP spesial bgt buat aku soalnya… zaman itu aku lagi beralih dari anak2 ke remaja, dalam artian aku udah mulai berani & nggak sepenakut anak kecil lagi tapi juga masih jauh dari stress dan berbagai derita orang dewasa (hu hu hu..)

Kalau waktu SD aku cuman identik dengan lupa bikin PR (aku sampe jadi salah satu anak yang paling sering kena setrap) pas SMP predikatku nambah jadi salah satu di antara yang paling sering telat& dihukum di lapangan. Buat yang satu ini posisiku bukan sembarangan.. aku bahkan pernah dapat hukuman spesial yang hanya diperuntukkan bagi para ‘residivis’ alias yang terlalu sering dapat hukuman rutin (ditahan bentar di ruang BP, trus disuruh lari keliling lapangan). Hukuman spesial ini adalah ‘dipenjara’ di perpustakaan. Kebetulan perpustakaan di sekolahku letaknya persis di tengah2 kompleks sekolah, dikelilingi ruang2 kelas & kantor. Lokasi yang sangat strategis ini membuat perpustakaan nggak pernah sepi. Tiap jam istirahat pasti banyak anak yang datang (kebetulan juga sekolahku anak2nya pada rajin). Ini yang bikin kita (para napi) jadi kelihatan konyol bgt, soalnya anak2 yang lain pada heran.. pada nanya2… “loh kamu ternyata nggak sakit toh? … Kok malah di sini? “ … dan sebagainya, dan sebagainya. Huuuhh…

Parahnya lagi, beberapa menit sebelum sekolah bubar, kita dipersilahkan masuk ke kelas masing2. Habislah aku jadi bahan tertawaan… parah bgt deh.. hehe..

 

Ngomong-ngomong soal anak ‘telatan’… aku nggak setuju loh kalau kami langsung disamakan dengan yang malas& bodoh. Soalnya biarpun telatan, selama sekolah nilai – nilaiku termasuk bagus , yah.. at least kalo cuman 10 besar atau 5 besar nggak heran2 amat lah (bukannya nyombong sih :-p). Sebetulnya.. yang bikin aku sering telat itu…mungkin…. Aku itu emang suka dengan yang mepet2 waktunya…heee.. Maksudku.. aku mungkin bisa dibilang semacam menikmati keadaan ‘ haah!! Aku hampir telat!!’ … mungkin aku emang senang jadi terburu2, adrenalin naik dan sebagainya … emhh… kayaknya mungkin gitu :-p

Efek positif yang aku dapatkan selama jadi anak telatan mungkin adalah… aku tanpa sengaja terlatih berjalan cepat. Sekedar gambaran, dulu aku suka berangkat kira2 lima atau empat menit sebelum jam 7. Jarak rumah dari sekolahku mungkin sekitar 600 atau 700m. Jadi kalo dihitung kasar.. kecepatan jalanku rata2 8 km/jam. Lumayan kan?

Sebetulnya bukan cuman jalan sih… tapi jalan cepat kombinasi lari… kombinasi jalan setengah melayang, hehehe…

Selain yang udah aku ceritain di atas, yang bikin masa SMP jadi masa yang spesial buat aku mungkin salah satunya karena guru-guru di sekolahku yang unik2 & gak terlupakan. Berhubung sekolahku sekolah favorit di Salatiga, guru2ku itu bisa dibilang semuanya pengajar yang baik, bisa memberikan ilmu yang dapat diserap anak2. Tapi di samping itu… banyak hal2 yang lucu tentang mereka. Banyak tokoh2 unik deh.. ada pak Rahman, guru matematika yg super killer, yang kalo dia lagi periksa PR semua jadi pada tegang. Gimana nggak tegang, lha wong kalo ada jawaban yang salah dia langsung (dengan kecepatan yg mengagetkan) kasih tanda silang yang super besar di lembar jawaban, udah gitu saking kerasnya dia mencoretkan tanda silang itu kertasnya bisa sampe robek berlembar2. Udah gitu dia juga suka njitakin kepala anak2, lumayan sakit loh! Trus dia juga suka nyuruh anak2 yang jawabannya salah buat memperbaiki jawabannya di lantai di depan papan tulis. Alhasil, kalo udah kayak gitu area depan kelas jadi penuh anak2 yang memperbaiki jawaban. Aku ingat, ada salah satu temanku (cewek) yang pantatnya agak besar, dia kena tendang di pantat gara2 posisi dia menghalangi jalan pak Rahman. Di pantatnya jadi nempel bekas tapak sepatu pak Rahman, jelas bgt.

Saking jengkelnya aku gara2 sering kena jitak, pada suatu hari aku memberanikan diri protes. Kayaknya protesku itu ada pengaruhnya… dikit tapi..

Anak2 lain masih kena jitak tapi aku enggak ! hohoho…

Guru lain yang memorable bgt buat aku mungkin pas aku kelas 3, guru sekaligus wali kelasku, pak Lukas. Selain memorable buat aku, mungkin pak Lukas lebih memorable lagi buat kakakku. Pak Lukas sendiri juga nggak lupa sama kakakku, soalnya dia pernah bilang ke aku… intinya kakakku itu agak luar biasa.. luar biasa bandel maksudnya, hihihi… Kakakku malah bangga karena pernah dikatain ”kamu seperti nggak punya malu” sama pak Lukas. Sebagai guru, pak Lukas itu sangat mementingkan kedisiplinan, termasuk dalam hal berpakaian. Kita sering kena ’inspeksi mendadak’. Kita diperiksa kelengkapan pakaian kita…. badgenya bener apa enggak, ikat pinggang harus yang dari sekolahan, gak boleh pake aksesoris, bahkan sampe kuku pun di periksa. Kalo sampe ada yang tertangkap miara kuku panjang, pak Lukas langsung keluarin ’senjata’ andalannya… gunting kuku. Langsung deh kuku-kuku yang kepanjangan itu dipotong sama pak Lukas. Cuman motongnya enggak biasa, motongnya sengaja dibikin zig-zag kayak garpu.. hehe..

Yang bikin aku seneng, aku kan termasuk murid kesayangan pak Lukas (kyknya sih)… aku dikira rajin& lugu… makanya seringkali pas inspeksi mendadak aku dilewatin begitu aja, nggak diperiksa sama sekali. Padahal sebetulnya aku juga banyak pake aksesoris (cincin& gelang metal yg waktu itu lg ngetren), kukuku juga sering panjang! Emang ada enaknya juga sih punya tampang innocent :-p

Sebetulnya sih, selain beliau2 yg udah aku sebutin di atas, msh banyak lagi guru2 ganjen yg tingkahnya bikin kita ketawa kalo inget lagi… msh ada bu guru ‘celana dalam sexy’ yang tiap jam pelajarannya anak2 cowok yg biasanya duduk di belakang pada memohon2 biar bisa tuker tempat duduk di depan… ada lagi ‘hot couple’ bapak-ibu guru sejoli yang kadang sok mesra di depan anak2 sampe disorakin sgl… hahaha…

Dan masih banyak orang2 aneh lainnya..
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Pokoknya sekolahku dulu asik banget deh!